fbpx

COVID-19 & KITA ~Bentengi Diri dari Aroma Negatif Covid-19

Sudah memasuki Minggu ke-4 karantina di rumah. Sekolah di rumah, bekerja di rumah, ibadah di rumah, dan segala aktivitas yang biasa dilakukan di luar dibatasi demi kemaslahatan bersama. #stayathome.

Berawal dari wabah yang berasal dari kota Wuhan, China yang saat ini sudah merebak sampai hampir ke seluruh dunia, menimbulkan banyak dampak. Corona Virus atau disebut juga Covid-19 merupakan virus yang menyerang sistem pernapasan ini sudah menjadi pendemik global. Karena perkembangan biakan dan penularannya yang sangat cepat, menyebabkan setiap orang diwajibkan lebih menjaga kebersihan, termasuk menjaga jarak dan tidak melakukan perkumpulan dengan orang banyak. Oleh karenanya diberlakukan #stayathome guna memutus rantai penyebaran virus.

Banyak  asumsi yang berdatangan, positif-negatif efek dari #stayathome ini semakin terasa oleh beberapa kalangan. Anak-anak sudah mulai bosan belajar di rumah, para pekerja WFH (work from home) sudah mulai  merasa tidak kondusif dengan dibatasinya komunikasi secara langsung. Para orang tua sudah mulai resah karena tugas anak yang tidak kunjung selesai, mengingat belajar di rumah tidak seefektif belajar di sekolah. Mahasiswa sudah mulai kelimpungan dengan tugas yang tak kunjung padam, kuota yang semakin menipis, dan keresahan praktikum hingga sidang yang dibuat online. Semua serba dibatasi. Keluh kesah sudah banyak tercurah, gundah dan resah sudah banyak dituangkan. Para pengusaha sudah kebingungan mencari cara agar omset tetap jalan, namun karyawan tetap selamat. Semuanya terkena dampak.

Namun pernahkah kita berpikir, bagaimana kondisi saudara-saudara kita yang tidak sekolah? Saudara-saudara kita yang tidak memiliki pekerjaan? Atau bahkan saudara-saudara kita yang tidak memiliki tempat tinggal? Situasi seperti ini sudah bukan hanya menjadi keresahan bagi mereka, tapi sudah lebih dari rasa sulit selama ini. Tukang parkir yang biasanya banyak pemasukan, sekarang hening bagai kota tanpa kendaraan. Pedagang kecil yang tadinya ramai oleh anak sekolahan, sekarang sepi mencari pembeli. Para pedagang di pasar, yang biasanya ramai sampai sore dan malam, kini harus segera bergegas menutup kedainya hanya sampai waktu yang telah ditentukan. Semuanya terkena dampak adanya wabah ini.

Setiap hari informasi bertebaran baik di media sosial maupun di masyarakat. Menyaring informasi menjadi sangat penting, mengingat pada situasi dan kondisi saat ini keadaan psikologis seseorang menjadi sangat rentan menurun. Padahal sistem perlawanan virus yang paling utama adalah imunitas atau daya tahan tubuh yang baik, dan daya tahan tubuh yang baik dipengaruhi oleh pola hidup dan pola fikir yang sehat.

Meski terasa sangat banyak memberikan dampak negatif, sesungguhnya Allah menciptakan segala sesuatu pasti memiliki maksud dan tujuan, bahkan makhluk dengan kasat mata seperti virus sekalipun. Allah tidak menciptakan semua itu dengan sia-sia.

 وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ

 Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir; maka celakalah orang-orang kafir itu, karena mereka akan masuk neraka. [Shâd/38:27].

Adapun akibat dari adanya wabah ini merupakan suatu ujian, hikmah, dan siksaan bagi orang-orang yang Allah kehendaki.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الطَّاعُونِ فَأَخْبَرَنِي أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ وَأَنَّ اللَّهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wabah tha’un (suatu jenis penyakit menular yang mematikan). Beliau memberitahukan kepadaku, bahwa itu merupakan siksaan yang Allâh kirimkan kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Dan Allâh menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Tidak ada seorangpun yang tertimpa penyakit tha’un, lalu ia tinggal di kotanya dengan sabar, mengharapkan pahala Allâh serta ia mengetahui bahwa ia tidak tertimpa sesuatu kecuali apa yang telah Allâh tulis (takdirkan) baginya, kecuali orang itu akan mendapatkan semisal pahala syahid”. [HR al-Bukhâri, no. 3474].

Anjuran untuk tetap bersabar, bertawakal dan terus memohon ampun, perlindungan serta memuji segala keagungan Allah merupakan sebuah keharusan. Menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan yang positif, menuruti nasihan dan anjuran para ahli medis dan pemerintah, juga  merupakan upaya yang harus diterapkan demi memutus rantai virus ini.

Agar kegiatan #stayathome dapat penuh dengan hikmah dan mampu mendekatkan diri kita kepada Allah, berikut beberapa tips menjaga imunitas lahir & batin ala Bang Jemmi :

  • Tilawah 10 menit/120 menit
  • Cuci tangan tiap 120 menit
  • Rutin minum air hangat
  • Istighfar 2 menit/120 menit
  • Konsumsi Vit. C dan Vit. E
  • Berjemur
  • Berdo’a setiap selesai tilawah
  • Kurangi baca medsos yang serem
  • Hafalkan Al-Qur’an 30 menit/hari

Tetap waspada dimanapun berada,  jaga kesehatan, jaga imunitas, dan jaga iman!

Semoga bermanfaat..

KARENA KAMI CINTA INDONESIA

Pendidikan merupakan salah satu parameter yang digunakan untuk menentukan kemajuan suatu bangsa. Angka pendidikan suatu negara, termasuk Indonesia akan menentukan seberapa berhasilkah program pembangunan manusia yang dilakukan pada negara tersebut. Ukuran ini telah disepakati oleh kepala negara dan perwakilan dari 189 negara Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang kemudian disebut dengan Millennium Development Goals atau disingkat dalam bahasa Inggris MDGs).

Dalam Islam, pendidikan (At Tarbiyah) juga memiliki bagian penting yang tak boleh ditinggalkan. Bahkan konsep pendidikan yang disampaikan dalam Al Quran dan sunnah tidak hanya berbicara tentang kesejahteraan pribadi, tapi juga keberkahan suatu bangsa. Dalam sejarahnya, Rasulullah pun mempersiapkan sumber daya manusia sebelum akhirnya mampu menaklukan Mekkah tanpa perlawanan (futuh Makkah).

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata

(QS Al Jumuah : 2)

Pendidikan yang Rasulullah SAW lakukan bertujuan mensucikan manusia, mengajarkan mereka Al Quran dan As Sunnah agar mengeluarkan manusia dari kesesatan yang nyata. Atau menjadikan mereka bertakwa karena senantiasa belajar dengan Al Quran dan As Sunnah serta menjadikan manusia kembali mengikuti fitrahnya. Karena ketika itu terjadi, manusia akan berperan sebagai Khalifah di bumi yang telah diserahkan tongkat pengelolaan bumi padanya.

Semua manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, atau Nasrani, atau majusi.”

(HR. Bukhari)

Sistem Pendidikan Yang Jauh Dari Al Quran

Seakan bertentangan dengan tujuan pendidikan dalam Islam, pendidikan yang kini ada justru menjauhkan manusia dari petunjuk hidupnya. Bagaimana mungkin siswa-siswi kita jadi malu membaca Al Quran di dalam kelas. Bagaimana bisa pelajar muslim kita masih mengkhatamkan Al Quran lebih dari sebulan, padahal khatam tiap bulan adalah standar minimal yang Rasulullah harapkan pada umatnya.

Dari Abdullah bin Amru bin Ash, beliau berkata, “Wahai Rasulullah saw., berapa lama aku sebaiknya membaca Al-Qur’an?”

Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam satu bulan.”

Aku berkata lagi, “Sungguh aku mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam dua puluh hari.”

Aku berkata lagi, “Aku masih mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah.”

Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam lima belas hari.”

“Aku masih lebih mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah.”

Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam sepuluh hari.”

Aku menjawab, “Aku masih lebih mampu lagi, wahai Rasulullah.”

Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam lima hari.”

Aku menjawab, “Aku masih lebih mampu lagi, wahai Rasulullah.” Namun beliau tidak memberikan izin bagiku.

(HR. Tirmidzi)

Perhatikan batas minimal pada hadits di atas dan beberapa hadits selainnya adalah, khatamkanlah dalam satu bulan. Karena khatam Al Quran lebih dari satu bulan adalah salah satu bentuk kelalaian (mahjuura). Karena khatam Al Quran yang lebih dari satu bulan adalah indikator kerapuhan iman. Karena hati yang bersih itu takkan kenyang membaca Al Quran, demikian menurut Utsman bin Affan. Karena iman yang cemerlang itu akan rindu untuk selalu bersama Al Quran.

Seringkali juga kita dapatkan bahwa kesibukan menjadi alasan untuk tidak dapat mengkhatamkan Al Quran. Padahal disisi lain meski sibuk, masih memiliki waktu untuk membuka gadget. Dalam suatu penelitian, bahkan dalam 24 jam rata-rata kita membuka gadget itu sebanya 210 kali. Kalau 1 kali membuka gadget kita membutuhkan waktu 1 menit, maka rata-rata kita membutuhkan waktu 210 menit (3,5 jam). Coba kalau tilawah Al Quran, mungkin 10 menit juga sudah termasuk lama dan membosankan.

Demikianlah terjadi karena memang ada perubahan dalam sistem pendidikan kita. Sistem pendidikan yang dulu menjadikan Masjid sebagai pusatnya, serta aktivitas di masjid kemudian dibawa ke sekolah, kini berubah menjauh. Beban kurikulum yang berat tidak berbanding lurus dengan fasilitas, membuat siswa tidak lagi terbiasa untuk bersama Al Quran. Kalau dulu, minimal bada maghrib anak-anak itu sudah ada di dalam masjid dan menunggu guru ngajinya. Akan tetapi, kini anak-anak itu disibukkan dengan PR, Les, atau Ekstrakulikuler yang menyebabkan pulang ke rumah lebih larut. Lalu kapan bisa terfikir untuk bisa bersama Al Quran.

Belum lagi, pola mendidik yang diberikan oleh orang tua pun secara langsung memang sengaja menjauhkan anak dari Al Quran. Mulai dari penghargaan yang berbeda, anak yang mahir bersama Al Quran seperti tak memiliki kelebihan dibandingkan anak yang mahir matematika misalnya. Selain itu, alokasi waktu yang diberikan juga tidak sama. Untuk belajar Matematika, seorang anak bisa menghabiskan 6 jam pelajaran di rumah ditambah dengan jadwal les diluar. Belum termasuk penyelesaian soal-soal latihan yang dilakukan setiap hari di rumah atau di sekolah bahkan dengan sedikit pemaksaan. Kalau untuk Al Quran jangankan dipaksa, anak yang rajin bersama Al Quran pun lebih sering diminta mengurangi interaksinya. Biar pelajaran sekolah tidak terganggu alasannya.

Kenyataan yang ada justru sebaliknya, ketika siswa tidak disibukkan dengan Al Quran mereka malah menjadikan games sebagai alternatif utama mengisi waktu. Sedangkan kita tahu kemudian, games tidak lagi menjadi alternatif pengisi waktu luang malah menjajah sebagian besar waktu. Karena pilihan alternatif yang salah inilah kemudian muncul hasil-hasil yang salah. Tadinya berniat membuat santai, yang terjadi kemudian bahkan anak-anak pecandu games ini semakin beringas.

Kerapuhan Generasi, Kehancuran Bangsa

Hancurkan suatu bangsa, hancurkanlah generasinya. Terbukti dalam sejarah penjajahan suatu bangsa, hancurkanlah lebih dulu generasinya. Karena generasi yang lemah adalah cara masuk yang paling mudah. Karena generasi yang rapuh, takkan mampu menopang bangsa yang besar. Maka edisi penjajahan suatu bangsa dimulai selalu dengan kehancuran generasinya. Oleh karena itu, memajukan suatu bangsa pun harus dimulai dengan memajukan generasinya.

Bangsa Indonesia merupakan bangsa besar yang kemudian tak luput dari upaya untuk menghancurkan dan menguasainya. Bagaimana tidak, negara dengan penduduk muslim terbesar ini sangat menggiurkan untuk dikuasai. Negara dengan limpahan sumber daya alam dan sumber daya hayati ini sangat menarik untuk dihancurkan kemudian dikuasai.

Salah satu tempat paling efektif untuk merapuhkan suatu generasi adalah pergaulan yang cenderung sudah tanpa batas. Ketika dalam Al Quran Allah Memberikan aturan bagaimana seharusnya berinteraksi dengan lawan jenis, kondisi yang terjadi kini sebaliknya. Berdasarkan data dari Komisi Perlidungan Anak Indonesia, sejak 2011 hingga 2016 sudah terdapat 606 kasus anak korban tayangan dan pergaulan seks bebas. Angka ini belum termasuk data pelakunya yang juga anak-anak dan jumlahnya jauh lebih banyak. Naudzubillah.

Hasil dari pergaulan bebas itu adalah bertambahnya jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia. Berdasarkan data dari Ditjen P2P Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tanggal 24 Mei 2017, jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia sejak tahun 2005 hingga Maret 2017 terus mengalami peningkatan. Total jumlah penderita HIV/AIDS yang tercatat sebanyak 330.152 orang selama 12 tahun itu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Tahun 2016 mencatatkan data terbanyak yaitu 48.741 orang atau mengalami peningkatan 33% dari tahun sebelumnya.

Berdasarkan data itu pula, diketahui bahwa persentase kumulatif AIDS tertinggi pada kelompok umur 20 – 29 tahun (31,4%), diikuti kelompok umur 30 – 39 tahun (30,6%) dan kelompok umur 40 – 49 tahun (12,8%). Padahal, kelompok usia ini seharusnya menjadi bagian produktifitas suatu bangsa untuk menghasilkan produk-produk yang bermanfaat. Bisa dibayangkan bagaimana tersendatnya kemajuan bangsa Indonesia karena generasi yang sakit ini. Kenaikan pengidap HIV menjadi pekerjaan rumah bersama untuk mencapai SDGs (Sustainable Development Goals). Dalam tujuan ketiga, yakni kesehatan yang baik, salah satu target dalam poin 3.3 adalah mengakhiri epidemi AIDS.

Belum lagi data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia mengenai penyalahgunaan narkotika yang 27% penggunanya berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Bahkan, Negara lain sudah dengan sangat matang perencanaannya untuk menguasai Indonesia lewat narkoba, tetapi tragisnya bangsa Indonesia sendiri tidak merasakan apa-apa atau tidak menyadari adanya serangan tersebut. Buktinya, suplai narkoba sebegitu besarnya (ratusan ton pertahun), angka pengguna sebegitu banyaknya (lebih dari 5 juta orang data tahun 2015), kematian 40–50 orang tiap hari akibat mengkonsumsi narkoba. Hal ini disampaikan Drs. Sulistiandriatmoko, M.Si (Kabag Humas BNN) pada rilis resmi website BNN.

Lalu apa penyebabnya angka – angka kelemahan generasi itu senantiasa bertambah setiap tahunnya. Padahal, anggaran besar telah digelontorkan untuk menghambat laju pertumbuhannya. Setiap tahun perayaan untuk pencegahannya tidak pernah berhenti, setiap tahun itulah angkanya bertambah, sesekali aja turun. Dengan tidak menafikan usaha-usaha yang telah dijalankan, mungkin saja memang kita harus menambah alternatif solusi dari masalah ini. Karena kalau terus dibiarkan, bukan tidak mungkin generasi ini akan semakin lemah.

Karena itulah, perlu upaya agar mengembalikan generasi ini agar bisa bersama Al Quran dalam setiap kesempatan. Karena Al Quran adalah Al Huda yang akan memberikan panduan berjalan pada jalur yang benar. Karena Al Quran adalah Asy Syifa, obat dari segala penyakit jiwa. Bagaimanapun tantangan yang kan dihadapi, Al Quran dibutuhkan untuk memberikan imunitas diri dari godaan pihak luar.

Sarana Sederhana Memperbaiki Generasi

Karena kami cinta negeri ini, maka dilakukanlah upaya-upaya sistematis dan sederhana untuk memberikan solusi. Sistematis dalam arti terencana, terarah dan terukur. Sistematis karena kebaikan harus terorganisir secara rapih sehingga bisa mengalahkan kejahatan. Karena menghasilkan generasi-generasi terbaik ini merupakan tugas berat yang harus memunculkan perencanaan secara terarah dan terukur. Ada target besar dan parameter keberhasilan dalam setiap fase tertentu.

Sederhana berarti mampu dilaksanakan oleh siapa saja. Mampu secara sistematis di duplikasi tanpa perlu bergantung pada sosok seseorang, karena Islam tidak mengenal pengkultusan. Salah satu yang memenuhi kriteria sistematis dan sederhana itu adalah Al Quran. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam surah Al Qamar ayat 17,

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”

Dalam tafsir Fi Zhilalil Quran, Sayyid Qutbh mengatakan bahwa

“Kini Al Quran hadir, mudah dipelajari, gampang untuk dipahami, dan menarik untuk dibaca dan direnungkan. Ia mengandung daya tarik kepada kebenaran, keselarasan dengan fitrah, menggetarkan tabiat, keajaibannya tidak kunjung habis, dan tidak banyak ditentang. Jika kalbu merenungkannya, ia kembali dengan memperoleh bekal baru.”

Ialah Al Quran yang Allah turunkan secara sistematis dan tematis. Berdasarkan kebutuhan pada masa itu, namun ternyata masa berulang sehingga Al Quran masih relevan untuk digunakan saat ini. Ketika berbicara tentang pergaulan bebas saat ini, masyarakat jahiliyah pun melakukannya. Islam datang untuk menyelesaikan itu, dengan Al Quran sebagai panduan. Kisah kaum luth (LGBT) di ceritakan, bagaimana muncul dan kehancurannya. Kisah peminum khamr, yang juga dilarang Allah SWT kini muncul kembali dengan sedikit perbedaan. Kisah-kisah dimunculkan, untuk pelajaran bagi orang-orang beriman.

Al Quran juga dijadikan sederhana, dengan struktur bahasa yang menarik terutama bagi umat Rasulullah SAW yang mencintai sastra. Adanya rima, pengulangan bunyi di bagian akhir ayat pada Al Quran semakin membuat kesederhanaan itu menjadi indah. Kesederhanaan ini kemudian menimbulkan fakta bahwa Al Quran ini mudah, sangat mudah bahkan untuk dihafalkan. Dalam buku Metode TES, Ketika Tilawah dan Tahfidz Menyatu diceritakan tentang seorang nenek usia 75 tahun yang mampu hafal 3 halaman dalam waktu hanya dalam 8 jam. Sebuah hasil yang luar biasa untuk seorang nenek berusia 75 tahun ini.

Karena penduduk muslim merupakan populasi terbesar di negeri ini, maka upaya yang harus dilakukan pun mencangkup jumlah yang besar ini. Untuk itulah, upaya ini kemudian bermain dengan target jumlah dan sebarannya. Rumah Tahfidz TES kemudian menjadi pilihan yang cocok untuk mewujudkan keinginan itu, sederhana dan sistematis. Sederhana karena tidak memerlukan biaya besar, cukup ada siswa dan ruangan terbatas. Sistematis karena ada kurikulum dan capaian-capaian yang di evaluasi secara rutin.

Rumah Tahfidz TES merupakan salah satu upaya yang bisa dilakukan dalam rangka memperbaiki kondisi generasi muslim di Indonesia. Rumah Tahfidz TES merupakan ungkapan dari kegalauan orang tua yang bersusah payah menjaga anak-anaknya dari pengaruh negatif di lingkungannya, sekolah dan rumah. Begitu hebatnya pengaruh lingkungan ini membuat upaya untuk menghadirkan lingkungan Qurani secara mandiri, minimal untuk keselamatan anak-anak semakin terasa mendesak.

Selamat Hari Pendidikan Nasional

Bang Jemmi – Founder Metode TES

AKU MAH BARHO

Bagi orang Sunda, mungkin ga aneh dengan istilah “barho” (bubar poho/ bubar lupa). Istilah ini artinya adalah setelah bubar acara, lalu lupa semua yang telah dipelajari atau dihafal. Kemarin, istilah ini muncul lagi saat saya akan memberikan materi awal dalam rangka pembukaan Rumah Tahfidz TES untuk kelompok Guru di salah satu SMP Negeri di Bandung.

Istilah ini secara tidak langsung ingin mengatakan ketidaksanggupan peserta mengikuti progam tahfizh Al Quran, meskipun dalam hatinya masih ada keinginan untuk menghafal Al Quran. Karena itu, saya pun menyampaikan persepsi dasar menghafal Al Quran yang akan menguatkan peserta untuk terus berada dalam program menghafal Al Quran di Rumah Tahfizh yang menggunakan Metode TES ini. Persepsi dasar yang sudah digunakan oleh alumni Metode TES dan juga secara detail digambarkan dalam buku kedua saya.

Persepsi dasar itu adalah :

  1. Menghafal Al Quran adalah masalah interaksi

Apakah Anda tahu ayat kursi? Salah satu ayat yang ada di surah Al Baqarah ini merupakan ayat yang populer di tengah masyarakat dan tentunya hafal. Hampir tidak ada orang dewasa yang tidak mengenal ayat ini apalagi tidak hafal.

Ayat kursi yang juga ada dalam surat Al Baqarah ayat 255 ini termasuk ayat yang panjang jika dibandingkan dengan ayat sebelumnya. Ayat 255 berjumlah hampir 5 baris, sedangkan ayat 254 hanya 2 baris. Akan tetapi, kalau saya tanya mana yang hafal, kemungkinan besar jawabannya adalah 255 lebih hafal dari 254. Kenapa bisa. Karena sering dibaca bukan?

Jadi menghafal itu adalah masalah interaksi, sering ketemu, sering dibaca, maka akan mudah hafal. Gak percaya? Coba aja surah Al Baqarah 6 – 10, insya Allah mudah dihafalkan.

  1. Kebaikan itu dari setiap huruf yang dibaca

Persepsi kedua ini mungkin sudah sangat sering saya ingatkan, khususnya dikala peserta mulai kehilangan orientasi hafalan. Dalam menghafal Al Quran, seharusnya orientasi utama kita bukan hafal, tapi bagaimana bisa membaca setiap huruf Al Quran secara lebih banyak. Karena pahala yang kan kita dapatkan itu dari setiap huruf yang dibaca. Saya ulangi, karena pahala yang kan kita dapatkan itu dari setiap huruf yang dibaca . Karena sesuai dengan poin 1, semakin sering baca akan semakin mudah hafal.

Analoginya adalah, kalau ada dua orang sebutlah A dan B sedang menghafal Surah An Naba ayat 1 – 3 yang berjumlah 39 huruf. Si A mampu hafal 3 (tiga) ayat tersebut dengan hanya mengulang 5 kali, sedangkan si B membutuhkan pengulangan 20 kali untuk bisa hafal. Menurut Anda, mana pahalanya yang paling banyak berdasarkan hadits bahwa setiap huruf yang dibaca berarti satu kebaikan dan dilipatgandakan sepuluh kali? Pasti si B yang membutuhkan pengulangan 20 kali yang lebih banyak pahalanya.

Senada dengan itu, maka ketika kita sudah hafal kemudian lupa, maka sebenarnya kita sedang diberikan kesempatan untuk membaca lebih banyak lagi huruf.

  1. Manusia tempatnya lupa

Saat menghafal, terkadang kita lupa sifat dasar manusia yang Rasulullah SAW gambarkan, tempat lupa dan salah. Kita terlalu merasa sempurna dengan melupakan sifat dasar ini sehingga ketika hafal lalu lupa seakan timbul perasaan bahwa ia tak mungkin bisa menghafal Al Quran. Padahal, pada pembahasan sebelumnya saya sudah sampaikan bahwa usia 80 tahun pun masih bisa menghafal yang bahkan hanya membutuhkan 5 tahun untuk hafal 30 Juz.

Akan tetapi, bukan berarti harus pasrah dengan keadaan. Saat lupa, tinggal ulang hafalannya, dan itu baik untuk kita. Seperti bahasan di poin dua di atas. Jadi hafalkan, saat lupa, maka ulang hafalkan dan seterusnya.

Mudah-mudahan dengan tiga alasan ini, kita takkan takut mulai menghafal, takkan takut lupa. Karena menghafal berarti banyak membaca huruf. Karena lupa berarti kesempatan untuk lebih dan lebih banyak lagi huruf yang dibaca.

-Bang Jemmi-

WA : 085794712555

IG : @bangjemmigumilar

 

Pesan Sponsor :

Dapatkan pembahasan lengkap Metode TES di Buku

“Metode TES, Ketika Tilawah dan Tahfizh Menyatu”

Pesan ke 081320565197 (Robi)

TILAWAH ITU REZEKI, MAKA….

Tahukah Anda ?

Tilawah itu rezeki dari Allah SWT

Dan karakter rezeki itu, bisa jadi :

1. Allah belum memberikannya

2. Kita belum berusaha mengambilnya

Begitu juga orang-orang yang belum bisa tilawah sebulan khatam. Apapun dalihnya, bisa jadi orang tersebut masuk dalam golongan :

1. Orang yang tidak diberi Allah rezeki tilawah
Tidak diberi karena dosa yang banyak, sebagaimana Allah berikan rezki kepada orang yang taqwa

2. Dia tidak berusaha mengambilnya
Tidak berusaha dengan dalih kesibukan, dalih waktu luang. Nyatanya, saat tidak sibuk juga sulit tilawah.

So…… hindari mencari alasan. Karena itu menunjukkan sebenarnya diri Kita.

Allahummarzuqna tilawatil qur’an ana allail wa athra annahaar

-Bang Jemmi-

MENUNGGU 4 MENIT

Bagaimana jika pertanyaan : “Apa yang akan Anda lakukan kalau ternyata Anda harus menunggu selama 4 menit?” disebar ke akun facebook, twitter, BBM grup dan media social lainnya yang Anda miliki. Tentu jawaban beragam tentu akan Anda dapatkan. Mungkin akan ada yang menjawab

– Saya tidak melakukan apa-apa, kan cuma 4 menit

– Saya BBM-an ria aja ngalor ngidul

– Saya berdzikir

– Bengong

– Kesal, karena jadwal jadi ngaret

– dan aktivitas lainnya

Namun pertanyaan mendasarnya, berapa persen kira-kira yang mengisi 4 menit dengan kebaikan?

a. < 50%

b. > 50%

Sungguh sangat ironis ketika pilihan A justru terjadi dikalangan masyarakat muslim. Padahal Allah SWT telah menurunkan Al Qur’an kepada mereka sebagai bacaan yang berpahala, mahir ataupun terbata-bata.

“Orangyang membaca Al-Qur’an sedangkan dia mahir melakukannya, kelak mendapat tempatdi dalam Syurga bersama-sama dengan rasul-rasul yang mulia lagi baik. Sedangkanorang yang membaca Al-Qur’an, tetapi dia tidak mahir, membacanya tertegun-tegundan nampak agak berat lidahnya (belum lancar), dia akan mendapat dua pahala.”

(HR. Bukhari danMuslim)

Bahkan, terkadang ada orang yang suka menyepelekan aktivitas membaca Al Qur’an ini dengan alasan apa yang bisa dibaca dalam 4 menit? atau pertanyaan lanjutannya Bagaimana saya bisa khusu’ dalam 4 menit?

Untuk dua pertanyaan ini, kami akan jawab dengan persepsi pribadi kami sebagai seorang muslim.


Apa yang bisa dibaca dalam 4 menit?

Ketahuilah rata-rata kecepatan kita membaca Al Quran adalah 4 menit untuk 1 lembar (Mushaf Utsman). Hal ini berarti dalam 4 menit, kita mampu membaca 30 baris yang masing-masing baris bisa berisi 35 – 45 huruf. Artinya, ada 350 – 450 kebaikan x 30 baris = 10.500 – 13.500 kebaikan.

Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang membaca sebuah huruf dari kitabullah -yakni al-Quran, maka ia memperoleh suatu kebaikan, sedang satu kebaikan itu akan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang seperti itu. Saya tidak mengatakan bahwa alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif adalah satu huruf, lam satu huruf dan mim juga satu huruf.”

(HR. Imam Termidzi)

Bagaimana bisa kita meninggalkan 10.500 – 13.500 kebaikan dari Allah SWT?

Untuk pertanyaan kedua

Bagaimana saya bisa khusu’ dalam 4 menit?

Lihat konteks hadits di atas, yg kami copy paste di bawah ini

“Orang yang membaca Al-Qur’an sedangkan dia mahir melakukannya, kelak mendapat tempatdi dalam Syurga bersama-sama dengan rasul-rasul yang mulia lagi baik. Sedangkanorang yang membaca Al-Qur’an, tetapi dia tidak mahir, membacanya tertegun-tegundan nampak agak berat lidahnya (belum lancar), dia akan mendapat dua pahala.”Ada dua golongan orang yang disebut di atas :

1. Mahir membaca Al Quran ==> ganjarannya mendapat tempat di dalam Syurga bersama-sama dengan rasul-rasul yang mulia lagi baik

2. Tidak mahir ==> mendapat dua pahala

yang menarik adalah, tidak mahir mebaca Al Quran oleh Rasulullah SAW di deskripsikan dengan membacanya tertegun-tegun dan nampak agak berat lidahnya (belum lancar). Hal ini berarti, jangankan untuk khusu’, untuk membaca saja sulit. Lantas dimana khusu’ nya?

Soo… jangan pernah remehkan waktu menunggu meski cuma 4 menit, 2 menit atau bahkan 1 menit. Lakukan tilawah quran dengan Rumus kedua : AM2 (Anti Malu dan Menunda)

-Bang Jemmi-

RESENSI BUKU METODE TES

Buku Metode TES, Ketika Tilawah dan Tahfidz Menyatu merupakan salah satu buku yang ditulis oleh Jemmi Gumilar, ST atau biasa dipanggil dengan Bang Jemmi. Buku ini diterbitkan oleh Bang Jemm Publishing House pada April 2017. Selain itu, Bang Jemmi telah menulis dua buku yaitu Quantum Tilawah Metode TES dan Tahfidz Lima Juz Selama Ramadhan (dalam bentuk ebook) yang sudah tersebar ke 2 Negara dan 2 Benua.

Sebagaimana buku-buku lainnya, dalam buku ini Bang Jemmi masih menggunakan Metode TES dalam memaparkan metode Tilawah dan Tahfidz Al Quran. Metode TES sendiri merupakan metode yang ditemukan oleh Bang Jemmi pada 2013 untuk memperbaiki interaksi kita dengan Al Quran dalam bentuk tilawah, tahfidz dan murajaah. Orang-orang yang mengaplikasikan Metode TES ini alhamdulillah mampu meningkatkan tilawah dan tahfidz Al Quran hingga 600% tanpa perlu mengganggu aktivitas. 

Buku Metode TES ini disusun setelah materinya diaplikasikan pada :

1. Training Quantum Tilawah Metode TES yang telah diikuti oleh 2.000 an peserta dari Indonesia, Malaysia, Jepang, USA, Kanada dan Australia.
👉🏻 Hasilnya tilawah 2-10 Juz/ hari TANPA Berhenti Kerja

2. Rumah Tahfidz TES, yang saat ini berjumlah 115 kelompok, ± 2.129 peserta.
👉🏻 Hasilnya, 2,5 tahun ada yang hafal 11 Juz

3. SD Tahfidz Metode TES, saat ini sudah ada 23 siswa dan berjalan 8 bulan.
👉🏻 Hasilnya, sudah hafal Juz 30 plus 1/3 Juz 29 dan 5 orang baca Al Quran secara lancar.

4. Mega Training Metode TES, Hafal 1/2 Juz selama 3 hari dan telah diikuti oleh peserta dari Jawa Barat, Riau dan Sumatera Barat

5. Workshop Metode TES, Hafal 30 Juz TANPA Berhenti Kerja telah diikuti 100 an peserta
👉🏻 Hasilnya rata2 mampu tilawah 1 Juz dan hafal 1/2 halaman SELAMA 4 jam pelatihan (materi 2,5 jam)

Buku Metode TES ini bukan sekedar wawasan, tapi buku yang bisa dan harus diaplikasikan. Karena ia disusun berdasarkan pengalaman lapangan dan materi-materi Training Metode TES selama 3,5 tahun.

☀ Ada yang bisa tilawah 2-10 Juz per hari meskipun sibuk kerja.

☀ Ada ibu-ibu 75 tahun yang hafal 3 halaman dalam 8 jam

☀ Dan ada yang hafal 1/2 Juz hanya dalam 16 Jam

Dengan desain Hard Cover, buku ini terlihat lebih mewah ketika pertama kali kita memegangnya. Belum lagi kertas di dalamnya yang terbuat dari art paper (glossy) membuat buku ini terlihat lebih exclusive. Dan yang paling penting, penggunaan hard cover dan art paper ini mampu membuat buku ini dapat digunakan lebih lama dari biasanya.

Info dan pembelian hubungi Robi (081320565197)

-Bang Jemmi-
WA : 085794712555
IG : @bangjemmigumilar