fbpx

Materi Utama Video Kursus Metode TES

Video 01 Pendahuluan
Video 02 Kurikulum
Video 03 Mau dan Mampu
Video 04 Kelalaian (p1)
Video 05 Kelalaian (p2)
Video 06 Kelalaian (p3)
Video 07 Memperkuat Keinginan
Video 08 Manfaat Interaksi
Video 09 Profil Metode TES (p1)
Video 10 Profil Metode TES (p2)
Video 11 Dua Perubahan
Video 12 Rumus PD
Video 13 Memperkuat PD
Video 14 Rumus IM2
Video 15 Rumus IM2 Membaca (p1)
Video 16 Rumus IM2 Membaca (p2)
Video 17 Mengisi Lembar Evaluasi Tilawah
Video 18 Rumus IM2 Murajaah
Video 19 Murajaah Tahap 1
Video 20 Murajaah Tahap 2
Video 21 Lembar Evaluasi Murajaah
Video 22 Rumus 120/4
Video 23 Praktek Menghafal
Video 24 Lembar Evaluasi Tahfizh
Video 25 Hafal 30 Juz 7 Tahun
Video 26 Penutup

Dibuka pendaftaran Reseller/ Dropshipper ke wa.me/6281398214028

Materi Bonus : 30 Hari Hafal Juz 30

Cikaracak Ninggang Batu

Cikaracak ninggang batu laun laun jadi dekok, sebuah peribahasa Sunda secara bahasa Indonesia terjemahannya adalah air menetes mengenai batu, lama-kelamaan jadi berlubang batunya. Makna peribahasa ini artinya usaha yang dilakukan secara terus menerus, lama-kelamaan pasti akan membuahkan hasil.

Coba kita bayangkan ada sebuah batu besar yang terus menerus ditimpa air pada satu titik lalu kemudian berlubang. Bukankah luar biasa makna keistiqamahan, fokus perjuangan sebuah air yang bahkan tak mampu menopang dirinya sendiri. Namun fakta membuktikan bahwa kekuatan batu kemudian luluh dengan kelemahan air yang fokus dan istiqamah.

Kalau mau melihat lebih dalam lagi, bayangkan usahanya dari tiap tetes. Tetes pertama yang terlihat malah sebaliknya, air tercerai berai berhadapan dengan batu. Tetes kedua pun demikian, namun tak menghalangi batu untuk terus menetes ditempat yang sama. Namun air tak pernah merasa telah melakukan hal yang sia-sia.

Sampai pada akhirnya, mungkin tetesan ke seribu, seratus ribu atau bahkan tetesan ke sejuta di tempat yang sama akhirnya mulai membuat batu kalah. Batu pun mulai retak, rapuh dan kemudian berlubang.

Begitu juga dengan hafalan Al Quran 30 Juz. Sengaja dituliskan agar kita fokus ke 30 Juz. Mungkin saja kita sulit menghafalkan suatu ayat, mengulang pertama tak nampak hasil, kedua juga belum terbayang, ketiga bahkan kadang menjadi hilang. Tapi, tak ada sia-sia dalam usaha itu. Kita hanya perlu terus mengulang dan mengulang.

Bisa jadi setelah hafal pun kita sering terlupa. Hafal satu surat, hilang surat sebelumnya. Hafal satu Juz, hilang Juz sebelumnya. Bahkan hafal satu ayat, hilang ayat sebelumnya. Apakah salah? Tentu tidak, karena lupa adalah kodrat manusia. Salahnya adalah, setelah lupa tak mau mengulang.

http://bit.ly/B2JQuran

Bapak/Ibu yang Allah Muliakan. Menghafal Al Quran dan mengulang hafalan adalah aktivitas yang harus dilakukan bersamaan. Karena itulah, Hadits yang ada menggambarkan tentang pahala yang didapatkan dari tiap huruf yang dibaca. Satu huruf yang dibaca bernilai 10 kebaikan.

Maka, sering saya sampaikan dalam training Metode TES, semakin sering lupa seharusnya makin bahagia. Karena sering lupa berarti membuka kesempatan membaca lagi. Semakin lupa, semakin sering baca, lupa lagi, baca lagi, semakin banyak deh pahalanya.

Cikaracak ninggang batu laun laun jadi dekok

Peribahasa ini harusnya mengajarkan kita untuk tak mudah putus asa bersama Al Quran. Karena putus asa bukan merupakan sifat orang mukmin. Kita harus selalu optimis, karena Allah sudah Mudahkan Al Quran buat kita.

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?
(QS Al Qamar : 17)

-Bang Jemmi-
(Founder Metode TES)

AKU MAH BARHO

Bagi orang Sunda, mungkin ga aneh dengan istilah “barho” (bubar poho/ bubar lupa). Istilah ini artinya adalah setelah bubar acara, lalu lupa semua yang telah dipelajari atau dihafal. Kemarin, istilah ini muncul lagi saat saya akan memberikan materi awal dalam rangka pembukaan Rumah Tahfidz TES untuk kelompok Guru di salah satu SMP Negeri di Bandung.

Istilah ini secara tidak langsung ingin mengatakan ketidaksanggupan peserta mengikuti progam tahfizh Al Quran, meskipun dalam hatinya masih ada keinginan untuk menghafal Al Quran. Karena itu, saya pun menyampaikan persepsi dasar menghafal Al Quran yang akan menguatkan peserta untuk terus berada dalam program menghafal Al Quran di Rumah Tahfizh yang menggunakan Metode TES ini. Persepsi dasar yang sudah digunakan oleh alumni Metode TES dan juga secara detail digambarkan dalam buku kedua saya.

Persepsi dasar itu adalah :

  1. Menghafal Al Quran adalah masalah interaksi

Apakah Anda tahu ayat kursi? Salah satu ayat yang ada di surah Al Baqarah ini merupakan ayat yang populer di tengah masyarakat dan tentunya hafal. Hampir tidak ada orang dewasa yang tidak mengenal ayat ini apalagi tidak hafal.

Ayat kursi yang juga ada dalam surat Al Baqarah ayat 255 ini termasuk ayat yang panjang jika dibandingkan dengan ayat sebelumnya. Ayat 255 berjumlah hampir 5 baris, sedangkan ayat 254 hanya 2 baris. Akan tetapi, kalau saya tanya mana yang hafal, kemungkinan besar jawabannya adalah 255 lebih hafal dari 254. Kenapa bisa. Karena sering dibaca bukan?

Jadi menghafal itu adalah masalah interaksi, sering ketemu, sering dibaca, maka akan mudah hafal. Gak percaya? Coba aja surah Al Baqarah 6 – 10, insya Allah mudah dihafalkan.

  1. Kebaikan itu dari setiap huruf yang dibaca

Persepsi kedua ini mungkin sudah sangat sering saya ingatkan, khususnya dikala peserta mulai kehilangan orientasi hafalan. Dalam menghafal Al Quran, seharusnya orientasi utama kita bukan hafal, tapi bagaimana bisa membaca setiap huruf Al Quran secara lebih banyak. Karena pahala yang kan kita dapatkan itu dari setiap huruf yang dibaca. Saya ulangi, karena pahala yang kan kita dapatkan itu dari setiap huruf yang dibaca . Karena sesuai dengan poin 1, semakin sering baca akan semakin mudah hafal.

Analoginya adalah, kalau ada dua orang sebutlah A dan B sedang menghafal Surah An Naba ayat 1 – 3 yang berjumlah 39 huruf. Si A mampu hafal 3 (tiga) ayat tersebut dengan hanya mengulang 5 kali, sedangkan si B membutuhkan pengulangan 20 kali untuk bisa hafal. Menurut Anda, mana pahalanya yang paling banyak berdasarkan hadits bahwa setiap huruf yang dibaca berarti satu kebaikan dan dilipatgandakan sepuluh kali? Pasti si B yang membutuhkan pengulangan 20 kali yang lebih banyak pahalanya.

Senada dengan itu, maka ketika kita sudah hafal kemudian lupa, maka sebenarnya kita sedang diberikan kesempatan untuk membaca lebih banyak lagi huruf.

  1. Manusia tempatnya lupa

Saat menghafal, terkadang kita lupa sifat dasar manusia yang Rasulullah SAW gambarkan, tempat lupa dan salah. Kita terlalu merasa sempurna dengan melupakan sifat dasar ini sehingga ketika hafal lalu lupa seakan timbul perasaan bahwa ia tak mungkin bisa menghafal Al Quran. Padahal, pada pembahasan sebelumnya saya sudah sampaikan bahwa usia 80 tahun pun masih bisa menghafal yang bahkan hanya membutuhkan 5 tahun untuk hafal 30 Juz.

Akan tetapi, bukan berarti harus pasrah dengan keadaan. Saat lupa, tinggal ulang hafalannya, dan itu baik untuk kita. Seperti bahasan di poin dua di atas. Jadi hafalkan, saat lupa, maka ulang hafalkan dan seterusnya.

Mudah-mudahan dengan tiga alasan ini, kita takkan takut mulai menghafal, takkan takut lupa. Karena menghafal berarti banyak membaca huruf. Karena lupa berarti kesempatan untuk lebih dan lebih banyak lagi huruf yang dibaca.

-Bang Jemmi-

WA : 085794712555

IG : @bangjemmigumilar

 

Pesan Sponsor :

Dapatkan pembahasan lengkap Metode TES di Buku

“Metode TES, Ketika Tilawah dan Tahfizh Menyatu”

Pesan ke 081320565197 (Robi)