Jangan Menunda Kebaikan

Jangan Menunda Kebaikan

Anak-anak penerima wakaf Al Quran Metode TES sekaligus peserta tahfizh gratis di sekolah negeri

Subhanallah, beramal memang harus disegerakan. Karena amal baik ga bertahan lama. Rasulullah SAW sampai mengingatkan kita agar bersegera menunaikan amal baik dalam haditsnya,

“Bersegeralah melakukan kebaikan sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.”

(HR. Muslim no. 118)

Teman yang tak mau disebutkan namanya ini ternyata berusaha mengamalkan hadits tersebut, hanya dalam waktu kurang dari 1 jam beliau berniat wakaf Al Quran Metode Tes, lalu langsung transfer. Subhanallah, 11 Al Quran katanya (1 Juta).

Dalam kondisi pandemi seperti ini, angka itu bukan angka yang kecil. Tapi tanpa ragu beliau menyampaikan segera. Kami tim wakaf hanya berdoa agar Allah membantu beliau Ikhlas dan ihsan. Dan menerima amal ini dengan balasan limpahan berkah.

Teman2, malam ini belajarlah tidak menunda kebaikan karena biasanya niat baik itu tak bertahan lama. Maksimalkan waktu kita dengan kebaikan.

Kalau mau Wakaf Al Quran disini aja

KARENA KAMI CINTA INDONESIA

Pendidikan merupakan salah satu parameter yang digunakan untuk menentukan kemajuan suatu bangsa. Angka pendidikan suatu negara, termasuk Indonesia akan menentukan seberapa berhasilkah program pembangunan manusia yang dilakukan pada negara tersebut. Ukuran ini telah disepakati oleh kepala negara dan perwakilan dari 189 negara Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang kemudian disebut dengan Millennium Development Goals atau disingkat dalam bahasa Inggris MDGs).

Dalam Islam, pendidikan (At Tarbiyah) juga memiliki bagian penting yang tak boleh ditinggalkan. Bahkan konsep pendidikan yang disampaikan dalam Al Quran dan sunnah tidak hanya berbicara tentang kesejahteraan pribadi, tapi juga keberkahan suatu bangsa. Dalam sejarahnya, Rasulullah pun mempersiapkan sumber daya manusia sebelum akhirnya mampu menaklukan Mekkah tanpa perlawanan (futuh Makkah).

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata

(QS Al Jumuah : 2)

Pendidikan yang Rasulullah SAW lakukan bertujuan mensucikan manusia, mengajarkan mereka Al Quran dan As Sunnah agar mengeluarkan manusia dari kesesatan yang nyata. Atau menjadikan mereka bertakwa karena senantiasa belajar dengan Al Quran dan As Sunnah serta menjadikan manusia kembali mengikuti fitrahnya. Karena ketika itu terjadi, manusia akan berperan sebagai Khalifah di bumi yang telah diserahkan tongkat pengelolaan bumi padanya.

Semua manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, atau Nasrani, atau majusi.”

(HR. Bukhari)

Sistem Pendidikan Yang Jauh Dari Al Quran

Seakan bertentangan dengan tujuan pendidikan dalam Islam, pendidikan yang kini ada justru menjauhkan manusia dari petunjuk hidupnya. Bagaimana mungkin siswa-siswi kita jadi malu membaca Al Quran di dalam kelas. Bagaimana bisa pelajar muslim kita masih mengkhatamkan Al Quran lebih dari sebulan, padahal khatam tiap bulan adalah standar minimal yang Rasulullah harapkan pada umatnya.

Dari Abdullah bin Amru bin Ash, beliau berkata, “Wahai Rasulullah saw., berapa lama aku sebaiknya membaca Al-Qur’an?”

Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam satu bulan.”

Aku berkata lagi, “Sungguh aku mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam dua puluh hari.”

Aku berkata lagi, “Aku masih mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah.”

Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam lima belas hari.”

“Aku masih lebih mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah.”

Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam sepuluh hari.”

Aku menjawab, “Aku masih lebih mampu lagi, wahai Rasulullah.”

Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam lima hari.”

Aku menjawab, “Aku masih lebih mampu lagi, wahai Rasulullah.” Namun beliau tidak memberikan izin bagiku.

(HR. Tirmidzi)

Perhatikan batas minimal pada hadits di atas dan beberapa hadits selainnya adalah, khatamkanlah dalam satu bulan. Karena khatam Al Quran lebih dari satu bulan adalah salah satu bentuk kelalaian (mahjuura). Karena khatam Al Quran yang lebih dari satu bulan adalah indikator kerapuhan iman. Karena hati yang bersih itu takkan kenyang membaca Al Quran, demikian menurut Utsman bin Affan. Karena iman yang cemerlang itu akan rindu untuk selalu bersama Al Quran.

Seringkali juga kita dapatkan bahwa kesibukan menjadi alasan untuk tidak dapat mengkhatamkan Al Quran. Padahal disisi lain meski sibuk, masih memiliki waktu untuk membuka gadget. Dalam suatu penelitian, bahkan dalam 24 jam rata-rata kita membuka gadget itu sebanya 210 kali. Kalau 1 kali membuka gadget kita membutuhkan waktu 1 menit, maka rata-rata kita membutuhkan waktu 210 menit (3,5 jam). Coba kalau tilawah Al Quran, mungkin 10 menit juga sudah termasuk lama dan membosankan.

Demikianlah terjadi karena memang ada perubahan dalam sistem pendidikan kita. Sistem pendidikan yang dulu menjadikan Masjid sebagai pusatnya, serta aktivitas di masjid kemudian dibawa ke sekolah, kini berubah menjauh. Beban kurikulum yang berat tidak berbanding lurus dengan fasilitas, membuat siswa tidak lagi terbiasa untuk bersama Al Quran. Kalau dulu, minimal bada maghrib anak-anak itu sudah ada di dalam masjid dan menunggu guru ngajinya. Akan tetapi, kini anak-anak itu disibukkan dengan PR, Les, atau Ekstrakulikuler yang menyebabkan pulang ke rumah lebih larut. Lalu kapan bisa terfikir untuk bisa bersama Al Quran.

Belum lagi, pola mendidik yang diberikan oleh orang tua pun secara langsung memang sengaja menjauhkan anak dari Al Quran. Mulai dari penghargaan yang berbeda, anak yang mahir bersama Al Quran seperti tak memiliki kelebihan dibandingkan anak yang mahir matematika misalnya. Selain itu, alokasi waktu yang diberikan juga tidak sama. Untuk belajar Matematika, seorang anak bisa menghabiskan 6 jam pelajaran di rumah ditambah dengan jadwal les diluar. Belum termasuk penyelesaian soal-soal latihan yang dilakukan setiap hari di rumah atau di sekolah bahkan dengan sedikit pemaksaan. Kalau untuk Al Quran jangankan dipaksa, anak yang rajin bersama Al Quran pun lebih sering diminta mengurangi interaksinya. Biar pelajaran sekolah tidak terganggu alasannya.

Kenyataan yang ada justru sebaliknya, ketika siswa tidak disibukkan dengan Al Quran mereka malah menjadikan games sebagai alternatif utama mengisi waktu. Sedangkan kita tahu kemudian, games tidak lagi menjadi alternatif pengisi waktu luang malah menjajah sebagian besar waktu. Karena pilihan alternatif yang salah inilah kemudian muncul hasil-hasil yang salah. Tadinya berniat membuat santai, yang terjadi kemudian bahkan anak-anak pecandu games ini semakin beringas.

Kerapuhan Generasi, Kehancuran Bangsa

Hancurkan suatu bangsa, hancurkanlah generasinya. Terbukti dalam sejarah penjajahan suatu bangsa, hancurkanlah lebih dulu generasinya. Karena generasi yang lemah adalah cara masuk yang paling mudah. Karena generasi yang rapuh, takkan mampu menopang bangsa yang besar. Maka edisi penjajahan suatu bangsa dimulai selalu dengan kehancuran generasinya. Oleh karena itu, memajukan suatu bangsa pun harus dimulai dengan memajukan generasinya.

Bangsa Indonesia merupakan bangsa besar yang kemudian tak luput dari upaya untuk menghancurkan dan menguasainya. Bagaimana tidak, negara dengan penduduk muslim terbesar ini sangat menggiurkan untuk dikuasai. Negara dengan limpahan sumber daya alam dan sumber daya hayati ini sangat menarik untuk dihancurkan kemudian dikuasai.

Salah satu tempat paling efektif untuk merapuhkan suatu generasi adalah pergaulan yang cenderung sudah tanpa batas. Ketika dalam Al Quran Allah Memberikan aturan bagaimana seharusnya berinteraksi dengan lawan jenis, kondisi yang terjadi kini sebaliknya. Berdasarkan data dari Komisi Perlidungan Anak Indonesia, sejak 2011 hingga 2016 sudah terdapat 606 kasus anak korban tayangan dan pergaulan seks bebas. Angka ini belum termasuk data pelakunya yang juga anak-anak dan jumlahnya jauh lebih banyak. Naudzubillah.

Hasil dari pergaulan bebas itu adalah bertambahnya jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia. Berdasarkan data dari Ditjen P2P Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tanggal 24 Mei 2017, jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia sejak tahun 2005 hingga Maret 2017 terus mengalami peningkatan. Total jumlah penderita HIV/AIDS yang tercatat sebanyak 330.152 orang selama 12 tahun itu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Tahun 2016 mencatatkan data terbanyak yaitu 48.741 orang atau mengalami peningkatan 33% dari tahun sebelumnya.

Berdasarkan data itu pula, diketahui bahwa persentase kumulatif AIDS tertinggi pada kelompok umur 20 – 29 tahun (31,4%), diikuti kelompok umur 30 – 39 tahun (30,6%) dan kelompok umur 40 – 49 tahun (12,8%). Padahal, kelompok usia ini seharusnya menjadi bagian produktifitas suatu bangsa untuk menghasilkan produk-produk yang bermanfaat. Bisa dibayangkan bagaimana tersendatnya kemajuan bangsa Indonesia karena generasi yang sakit ini. Kenaikan pengidap HIV menjadi pekerjaan rumah bersama untuk mencapai SDGs (Sustainable Development Goals). Dalam tujuan ketiga, yakni kesehatan yang baik, salah satu target dalam poin 3.3 adalah mengakhiri epidemi AIDS.

Belum lagi data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia mengenai penyalahgunaan narkotika yang 27% penggunanya berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Bahkan, Negara lain sudah dengan sangat matang perencanaannya untuk menguasai Indonesia lewat narkoba, tetapi tragisnya bangsa Indonesia sendiri tidak merasakan apa-apa atau tidak menyadari adanya serangan tersebut. Buktinya, suplai narkoba sebegitu besarnya (ratusan ton pertahun), angka pengguna sebegitu banyaknya (lebih dari 5 juta orang data tahun 2015), kematian 40–50 orang tiap hari akibat mengkonsumsi narkoba. Hal ini disampaikan Drs. Sulistiandriatmoko, M.Si (Kabag Humas BNN) pada rilis resmi website BNN.

Lalu apa penyebabnya angka – angka kelemahan generasi itu senantiasa bertambah setiap tahunnya. Padahal, anggaran besar telah digelontorkan untuk menghambat laju pertumbuhannya. Setiap tahun perayaan untuk pencegahannya tidak pernah berhenti, setiap tahun itulah angkanya bertambah, sesekali aja turun. Dengan tidak menafikan usaha-usaha yang telah dijalankan, mungkin saja memang kita harus menambah alternatif solusi dari masalah ini. Karena kalau terus dibiarkan, bukan tidak mungkin generasi ini akan semakin lemah.

Karena itulah, perlu upaya agar mengembalikan generasi ini agar bisa bersama Al Quran dalam setiap kesempatan. Karena Al Quran adalah Al Huda yang akan memberikan panduan berjalan pada jalur yang benar. Karena Al Quran adalah Asy Syifa, obat dari segala penyakit jiwa. Bagaimanapun tantangan yang kan dihadapi, Al Quran dibutuhkan untuk memberikan imunitas diri dari godaan pihak luar.

Sarana Sederhana Memperbaiki Generasi

Karena kami cinta negeri ini, maka dilakukanlah upaya-upaya sistematis dan sederhana untuk memberikan solusi. Sistematis dalam arti terencana, terarah dan terukur. Sistematis karena kebaikan harus terorganisir secara rapih sehingga bisa mengalahkan kejahatan. Karena menghasilkan generasi-generasi terbaik ini merupakan tugas berat yang harus memunculkan perencanaan secara terarah dan terukur. Ada target besar dan parameter keberhasilan dalam setiap fase tertentu.

Sederhana berarti mampu dilaksanakan oleh siapa saja. Mampu secara sistematis di duplikasi tanpa perlu bergantung pada sosok seseorang, karena Islam tidak mengenal pengkultusan. Salah satu yang memenuhi kriteria sistematis dan sederhana itu adalah Al Quran. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam surah Al Qamar ayat 17,

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”

Dalam tafsir Fi Zhilalil Quran, Sayyid Qutbh mengatakan bahwa

“Kini Al Quran hadir, mudah dipelajari, gampang untuk dipahami, dan menarik untuk dibaca dan direnungkan. Ia mengandung daya tarik kepada kebenaran, keselarasan dengan fitrah, menggetarkan tabiat, keajaibannya tidak kunjung habis, dan tidak banyak ditentang. Jika kalbu merenungkannya, ia kembali dengan memperoleh bekal baru.”

Ialah Al Quran yang Allah turunkan secara sistematis dan tematis. Berdasarkan kebutuhan pada masa itu, namun ternyata masa berulang sehingga Al Quran masih relevan untuk digunakan saat ini. Ketika berbicara tentang pergaulan bebas saat ini, masyarakat jahiliyah pun melakukannya. Islam datang untuk menyelesaikan itu, dengan Al Quran sebagai panduan. Kisah kaum luth (LGBT) di ceritakan, bagaimana muncul dan kehancurannya. Kisah peminum khamr, yang juga dilarang Allah SWT kini muncul kembali dengan sedikit perbedaan. Kisah-kisah dimunculkan, untuk pelajaran bagi orang-orang beriman.

Al Quran juga dijadikan sederhana, dengan struktur bahasa yang menarik terutama bagi umat Rasulullah SAW yang mencintai sastra. Adanya rima, pengulangan bunyi di bagian akhir ayat pada Al Quran semakin membuat kesederhanaan itu menjadi indah. Kesederhanaan ini kemudian menimbulkan fakta bahwa Al Quran ini mudah, sangat mudah bahkan untuk dihafalkan. Dalam buku Metode TES, Ketika Tilawah dan Tahfidz Menyatu diceritakan tentang seorang nenek usia 75 tahun yang mampu hafal 3 halaman dalam waktu hanya dalam 8 jam. Sebuah hasil yang luar biasa untuk seorang nenek berusia 75 tahun ini.

Karena penduduk muslim merupakan populasi terbesar di negeri ini, maka upaya yang harus dilakukan pun mencangkup jumlah yang besar ini. Untuk itulah, upaya ini kemudian bermain dengan target jumlah dan sebarannya. Rumah Tahfidz TES kemudian menjadi pilihan yang cocok untuk mewujudkan keinginan itu, sederhana dan sistematis. Sederhana karena tidak memerlukan biaya besar, cukup ada siswa dan ruangan terbatas. Sistematis karena ada kurikulum dan capaian-capaian yang di evaluasi secara rutin.

Rumah Tahfidz TES merupakan salah satu upaya yang bisa dilakukan dalam rangka memperbaiki kondisi generasi muslim di Indonesia. Rumah Tahfidz TES merupakan ungkapan dari kegalauan orang tua yang bersusah payah menjaga anak-anaknya dari pengaruh negatif di lingkungannya, sekolah dan rumah. Begitu hebatnya pengaruh lingkungan ini membuat upaya untuk menghadirkan lingkungan Qurani secara mandiri, minimal untuk keselamatan anak-anak semakin terasa mendesak.

Selamat Hari Pendidikan Nasional

Bang Jemmi – Founder Metode TES