[Video] Visi Misi SD Tahfizh Mencapai 30 Juz

Bang Jemmi sedang menceritakan bagaimana visi Misi SD Tahfizh Metode TES yang dipimpinnya dalam mencapai target hafalan 30 Juz namun tidak mengurangi kemampuan akademis.

Dalam video yang berdurasi singkat ini, Bang Jemmi berusaha menyampaikan pesan kepada setiap orang tua agar selektif dalam memilih sekolah sebagai tempat belajar putra – putrinya.

Silahkan disimak

Pertemanan di Dunia Maya

Pertemanan sejatinya adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah SWT. Islam yang indah telah membungkusnya dengan pahala. Setiap rangkaian kata bernilai di hadapan Nya.

Begitupun pertemanan di dunia maya. Ia merupakan salah satu bentuk pertemanan yang ada di abad ini, unik dan mengasyikkan. Unik karena tak perlu tatap muka untuk berbicara, mengasyikkan karena berbagai macam karakter (emoticon) bisa membantu mengungkapkannya.

Namun, niat pertemanan yang baik jangan dinodai dengan amarah, dendam, hubungan tanpa status, dan hal-hal lain yang dimurkai Nya.

Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.”

(HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Mari perbaiki pertemanan ini, dengan mengharap ridho Nya

-Bang Jemmi-

Penyerahan Al Quran Metode TES pada Anggota DPRD Provinsi Jabar, Bapak Abdul Hadi Wijaya,

Apa Yang Akan Dipertanggungjawabkan Nanti?

Alhamdulillah perjalanan kami ke Payakumbuh selesai diakhiri dengan mengisi khotbah Tarawih di salah satu Masjid. Kota dengan penduduk sekitar 130 ribu orang ini memang tertata baik dan nyaman untuk ditinggali.

Perjalanan kali ini kami bertiga, saya, Pa Trisno dan Ustadz Dedi Saepudin karena ingin bertemu dan berdiskusi langsung dengan Bapak Riza Falepi, ST., MT (Bapak Walikota Payakumbuh) untuk membicarakan program mencetak 10.000 Huffazh dengan menggunakan Metode TES.

Pertemuan ini terwujud setelah diskusi ringan di media sosial. Alhamdulillah tanggapan Pa Wali terhadap rencana pertemuan ini sangat luar biasa. Sederhana, tanpa protokoler yang rumit. Tidak harus berhubungan dengan banyak pihak, surat menyurat, semua hanya dengan media sosial.

Kami pun berangkat dengan semangat tinggi mewujudkan mimpi besar 130 juta Huffazh di tahun 2039. Berbagai bahan presentasi telah kami siapkan untuk memperkenalkan Metode TES kepada Beliau.

Alhamdulillah sesampainya di Bandara Internasional Minangkabau, ternyata segala sarana prasarana sudah disiapkan, transportasi, penginapan dan sambutan lainnya yang sekali lagi jauh dari nuansa rumit dan berbelit-belit. Mudah-mudahan Allah Mudahkan juga urusan Beliau.

Perbincangan kami sebenarnya tidak lama, kalau tidak ingin dikatakan sebentar. Akan tetapi dengan padatnya jadwal Beliau, waktu sebanyak itu sudah luar biasa. Perbincangan sebelum dan setelah berbuka puasa, singkat, padat dan langsung aksi.

Perbincangan tentang tema utama Mencetak ribuan Huffazh di Kota Payakumbuh ini pun akan segera terealisasi mulai kuartal akhir tahun ini. Semoga Allah SWT Mudahkan proses ini. Bahkan, setiap OPD yang berhubungan dengan program ini langsung dihadirkan untuk diskusi hal-hal teknisnya.

Saya sebagai perwakilan tim pun mengucapkan banyak terima kasih kepada Beliau atas kemudahan ini. Akan tetapi, tak disangka respon Beliau begitu bagus. Dengan singkat Beliau hanya mengatakan “Apa yang akan saya pertanggungjawabkan nanti di akhirat jika tidak melakukan ini (mencetak ribuan Huffazh)?”

Bagi saya, ucapan ini menunjukkan kedalaman Beliau dalam memahami bahwa menjadi Kepala Daerah adalah Taklif (beban) bukan Tasrif (kemuliaan). Taklif karena amanah Kepala Daerah akan dipertanggungjawabkan tidak hanya di hadapan manusia, namun juga dihadapan Allah SWT Yang Maha Mengetahui.

Saya pun merasa bersyukur sekaligus berharap. Bersyukur bahwa masih ada pemimpin daerah yang menganggap jabatannya adalah beban, bukan kemuliaan. Saya juga menemui ini pada sosok Wakil Bupati Bandung (Bapak H. Gun Gun Gunawan, S.Si., M.Si) dan Walikota Padang (Bapak H Malyedi A, SP).

Selain itu saya berharap agar kami, terutama yang berangkat ini bisa dapat belajar tentang makna Totalitas dalam berjuang, berdakwah. Ikhlas dan Ihsan berpadu dalam amal-amal dakwah ini.

Syukran Pak Wali, atas pelajaran yang diberikan pada kami. Insya Allah kami akan sempurnakan program ini segera.

Mencetak 10.000 Huffazh di Payakumbuh

-Bang Jemmi-
http://bit.ly/B2JQuran

Cikaracak Ninggang Batu

Cikaracak ninggang batu laun laun jadi dekok, sebuah peribahasa Sunda secara bahasa Indonesia terjemahannya adalah air menetes mengenai batu, lama-kelamaan jadi berlubang batunya. Makna peribahasa ini artinya usaha yang dilakukan secara terus menerus, lama-kelamaan pasti akan membuahkan hasil.

Coba kita bayangkan ada sebuah batu besar yang terus menerus ditimpa air pada satu titik lalu kemudian berlubang. Bukankah luar biasa makna keistiqamahan, fokus perjuangan sebuah air yang bahkan tak mampu menopang dirinya sendiri. Namun fakta membuktikan bahwa kekuatan batu kemudian luluh dengan kelemahan air yang fokus dan istiqamah.

Kalau mau melihat lebih dalam lagi, bayangkan usahanya dari tiap tetes. Tetes pertama yang terlihat malah sebaliknya, air tercerai berai berhadapan dengan batu. Tetes kedua pun demikian, namun tak menghalangi batu untuk terus menetes ditempat yang sama. Namun air tak pernah merasa telah melakukan hal yang sia-sia.

Sampai pada akhirnya, mungkin tetesan ke seribu, seratus ribu atau bahkan tetesan ke sejuta di tempat yang sama akhirnya mulai membuat batu kalah. Batu pun mulai retak, rapuh dan kemudian berlubang.

Begitu juga dengan hafalan Al Quran 30 Juz. Sengaja dituliskan agar kita fokus ke 30 Juz. Mungkin saja kita sulit menghafalkan suatu ayat, mengulang pertama tak nampak hasil, kedua juga belum terbayang, ketiga bahkan kadang menjadi hilang. Tapi, tak ada sia-sia dalam usaha itu. Kita hanya perlu terus mengulang dan mengulang.

Bisa jadi setelah hafal pun kita sering terlupa. Hafal satu surat, hilang surat sebelumnya. Hafal satu Juz, hilang Juz sebelumnya. Bahkan hafal satu ayat, hilang ayat sebelumnya. Apakah salah? Tentu tidak, karena lupa adalah kodrat manusia. Salahnya adalah, setelah lupa tak mau mengulang.

http://bit.ly/B2JQuran

Bapak/Ibu yang Allah Muliakan. Menghafal Al Quran dan mengulang hafalan adalah aktivitas yang harus dilakukan bersamaan. Karena itulah, Hadits yang ada menggambarkan tentang pahala yang didapatkan dari tiap huruf yang dibaca. Satu huruf yang dibaca bernilai 10 kebaikan.

Maka, sering saya sampaikan dalam training Metode TES, semakin sering lupa seharusnya makin bahagia. Karena sering lupa berarti membuka kesempatan membaca lagi. Semakin lupa, semakin sering baca, lupa lagi, baca lagi, semakin banyak deh pahalanya.

Cikaracak ninggang batu laun laun jadi dekok

Peribahasa ini harusnya mengajarkan kita untuk tak mudah putus asa bersama Al Quran. Karena putus asa bukan merupakan sifat orang mukmin. Kita harus selalu optimis, karena Allah sudah Mudahkan Al Quran buat kita.

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?
(QS Al Qamar : 17)

-Bang Jemmi-
(Founder Metode TES)

KARENA KAMI CINTA INDONESIA

Pendidikan merupakan salah satu parameter yang digunakan untuk menentukan kemajuan suatu bangsa. Angka pendidikan suatu negara, termasuk Indonesia akan menentukan seberapa berhasilkah program pembangunan manusia yang dilakukan pada negara tersebut. Ukuran ini telah disepakati oleh kepala negara dan perwakilan dari 189 negara Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang kemudian disebut dengan Millennium Development Goals atau disingkat dalam bahasa Inggris MDGs).

Dalam Islam, pendidikan (At Tarbiyah) juga memiliki bagian penting yang tak boleh ditinggalkan. Bahkan konsep pendidikan yang disampaikan dalam Al Quran dan sunnah tidak hanya berbicara tentang kesejahteraan pribadi, tapi juga keberkahan suatu bangsa. Dalam sejarahnya, Rasulullah pun mempersiapkan sumber daya manusia sebelum akhirnya mampu menaklukan Mekkah tanpa perlawanan (futuh Makkah).

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata

(QS Al Jumuah : 2)

Pendidikan yang Rasulullah SAW lakukan bertujuan mensucikan manusia, mengajarkan mereka Al Quran dan As Sunnah agar mengeluarkan manusia dari kesesatan yang nyata. Atau menjadikan mereka bertakwa karena senantiasa belajar dengan Al Quran dan As Sunnah serta menjadikan manusia kembali mengikuti fitrahnya. Karena ketika itu terjadi, manusia akan berperan sebagai Khalifah di bumi yang telah diserahkan tongkat pengelolaan bumi padanya.

Semua manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, atau Nasrani, atau majusi.”

(HR. Bukhari)

Sistem Pendidikan Yang Jauh Dari Al Quran

Seakan bertentangan dengan tujuan pendidikan dalam Islam, pendidikan yang kini ada justru menjauhkan manusia dari petunjuk hidupnya. Bagaimana mungkin siswa-siswi kita jadi malu membaca Al Quran di dalam kelas. Bagaimana bisa pelajar muslim kita masih mengkhatamkan Al Quran lebih dari sebulan, padahal khatam tiap bulan adalah standar minimal yang Rasulullah harapkan pada umatnya.

Dari Abdullah bin Amru bin Ash, beliau berkata, “Wahai Rasulullah saw., berapa lama aku sebaiknya membaca Al-Qur’an?”

Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam satu bulan.”

Aku berkata lagi, “Sungguh aku mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam dua puluh hari.”

Aku berkata lagi, “Aku masih mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah.”

Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam lima belas hari.”

“Aku masih lebih mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah.”

Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam sepuluh hari.”

Aku menjawab, “Aku masih lebih mampu lagi, wahai Rasulullah.”

Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam lima hari.”

Aku menjawab, “Aku masih lebih mampu lagi, wahai Rasulullah.” Namun beliau tidak memberikan izin bagiku.

(HR. Tirmidzi)

Perhatikan batas minimal pada hadits di atas dan beberapa hadits selainnya adalah, khatamkanlah dalam satu bulan. Karena khatam Al Quran lebih dari satu bulan adalah salah satu bentuk kelalaian (mahjuura). Karena khatam Al Quran yang lebih dari satu bulan adalah indikator kerapuhan iman. Karena hati yang bersih itu takkan kenyang membaca Al Quran, demikian menurut Utsman bin Affan. Karena iman yang cemerlang itu akan rindu untuk selalu bersama Al Quran.

Seringkali juga kita dapatkan bahwa kesibukan menjadi alasan untuk tidak dapat mengkhatamkan Al Quran. Padahal disisi lain meski sibuk, masih memiliki waktu untuk membuka gadget. Dalam suatu penelitian, bahkan dalam 24 jam rata-rata kita membuka gadget itu sebanya 210 kali. Kalau 1 kali membuka gadget kita membutuhkan waktu 1 menit, maka rata-rata kita membutuhkan waktu 210 menit (3,5 jam). Coba kalau tilawah Al Quran, mungkin 10 menit juga sudah termasuk lama dan membosankan.

Demikianlah terjadi karena memang ada perubahan dalam sistem pendidikan kita. Sistem pendidikan yang dulu menjadikan Masjid sebagai pusatnya, serta aktivitas di masjid kemudian dibawa ke sekolah, kini berubah menjauh. Beban kurikulum yang berat tidak berbanding lurus dengan fasilitas, membuat siswa tidak lagi terbiasa untuk bersama Al Quran. Kalau dulu, minimal bada maghrib anak-anak itu sudah ada di dalam masjid dan menunggu guru ngajinya. Akan tetapi, kini anak-anak itu disibukkan dengan PR, Les, atau Ekstrakulikuler yang menyebabkan pulang ke rumah lebih larut. Lalu kapan bisa terfikir untuk bisa bersama Al Quran.

Belum lagi, pola mendidik yang diberikan oleh orang tua pun secara langsung memang sengaja menjauhkan anak dari Al Quran. Mulai dari penghargaan yang berbeda, anak yang mahir bersama Al Quran seperti tak memiliki kelebihan dibandingkan anak yang mahir matematika misalnya. Selain itu, alokasi waktu yang diberikan juga tidak sama. Untuk belajar Matematika, seorang anak bisa menghabiskan 6 jam pelajaran di rumah ditambah dengan jadwal les diluar. Belum termasuk penyelesaian soal-soal latihan yang dilakukan setiap hari di rumah atau di sekolah bahkan dengan sedikit pemaksaan. Kalau untuk Al Quran jangankan dipaksa, anak yang rajin bersama Al Quran pun lebih sering diminta mengurangi interaksinya. Biar pelajaran sekolah tidak terganggu alasannya.

Kenyataan yang ada justru sebaliknya, ketika siswa tidak disibukkan dengan Al Quran mereka malah menjadikan games sebagai alternatif utama mengisi waktu. Sedangkan kita tahu kemudian, games tidak lagi menjadi alternatif pengisi waktu luang malah menjajah sebagian besar waktu. Karena pilihan alternatif yang salah inilah kemudian muncul hasil-hasil yang salah. Tadinya berniat membuat santai, yang terjadi kemudian bahkan anak-anak pecandu games ini semakin beringas.

Kerapuhan Generasi, Kehancuran Bangsa

Hancurkan suatu bangsa, hancurkanlah generasinya. Terbukti dalam sejarah penjajahan suatu bangsa, hancurkanlah lebih dulu generasinya. Karena generasi yang lemah adalah cara masuk yang paling mudah. Karena generasi yang rapuh, takkan mampu menopang bangsa yang besar. Maka edisi penjajahan suatu bangsa dimulai selalu dengan kehancuran generasinya. Oleh karena itu, memajukan suatu bangsa pun harus dimulai dengan memajukan generasinya.

Bangsa Indonesia merupakan bangsa besar yang kemudian tak luput dari upaya untuk menghancurkan dan menguasainya. Bagaimana tidak, negara dengan penduduk muslim terbesar ini sangat menggiurkan untuk dikuasai. Negara dengan limpahan sumber daya alam dan sumber daya hayati ini sangat menarik untuk dihancurkan kemudian dikuasai.

Salah satu tempat paling efektif untuk merapuhkan suatu generasi adalah pergaulan yang cenderung sudah tanpa batas. Ketika dalam Al Quran Allah Memberikan aturan bagaimana seharusnya berinteraksi dengan lawan jenis, kondisi yang terjadi kini sebaliknya. Berdasarkan data dari Komisi Perlidungan Anak Indonesia, sejak 2011 hingga 2016 sudah terdapat 606 kasus anak korban tayangan dan pergaulan seks bebas. Angka ini belum termasuk data pelakunya yang juga anak-anak dan jumlahnya jauh lebih banyak. Naudzubillah.

Hasil dari pergaulan bebas itu adalah bertambahnya jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia. Berdasarkan data dari Ditjen P2P Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tanggal 24 Mei 2017, jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia sejak tahun 2005 hingga Maret 2017 terus mengalami peningkatan. Total jumlah penderita HIV/AIDS yang tercatat sebanyak 330.152 orang selama 12 tahun itu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Tahun 2016 mencatatkan data terbanyak yaitu 48.741 orang atau mengalami peningkatan 33% dari tahun sebelumnya.

Berdasarkan data itu pula, diketahui bahwa persentase kumulatif AIDS tertinggi pada kelompok umur 20 – 29 tahun (31,4%), diikuti kelompok umur 30 – 39 tahun (30,6%) dan kelompok umur 40 – 49 tahun (12,8%). Padahal, kelompok usia ini seharusnya menjadi bagian produktifitas suatu bangsa untuk menghasilkan produk-produk yang bermanfaat. Bisa dibayangkan bagaimana tersendatnya kemajuan bangsa Indonesia karena generasi yang sakit ini. Kenaikan pengidap HIV menjadi pekerjaan rumah bersama untuk mencapai SDGs (Sustainable Development Goals). Dalam tujuan ketiga, yakni kesehatan yang baik, salah satu target dalam poin 3.3 adalah mengakhiri epidemi AIDS.

Belum lagi data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia mengenai penyalahgunaan narkotika yang 27% penggunanya berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Bahkan, Negara lain sudah dengan sangat matang perencanaannya untuk menguasai Indonesia lewat narkoba, tetapi tragisnya bangsa Indonesia sendiri tidak merasakan apa-apa atau tidak menyadari adanya serangan tersebut. Buktinya, suplai narkoba sebegitu besarnya (ratusan ton pertahun), angka pengguna sebegitu banyaknya (lebih dari 5 juta orang data tahun 2015), kematian 40–50 orang tiap hari akibat mengkonsumsi narkoba. Hal ini disampaikan Drs. Sulistiandriatmoko, M.Si (Kabag Humas BNN) pada rilis resmi website BNN.

Lalu apa penyebabnya angka – angka kelemahan generasi itu senantiasa bertambah setiap tahunnya. Padahal, anggaran besar telah digelontorkan untuk menghambat laju pertumbuhannya. Setiap tahun perayaan untuk pencegahannya tidak pernah berhenti, setiap tahun itulah angkanya bertambah, sesekali aja turun. Dengan tidak menafikan usaha-usaha yang telah dijalankan, mungkin saja memang kita harus menambah alternatif solusi dari masalah ini. Karena kalau terus dibiarkan, bukan tidak mungkin generasi ini akan semakin lemah.

Karena itulah, perlu upaya agar mengembalikan generasi ini agar bisa bersama Al Quran dalam setiap kesempatan. Karena Al Quran adalah Al Huda yang akan memberikan panduan berjalan pada jalur yang benar. Karena Al Quran adalah Asy Syifa, obat dari segala penyakit jiwa. Bagaimanapun tantangan yang kan dihadapi, Al Quran dibutuhkan untuk memberikan imunitas diri dari godaan pihak luar.

Sarana Sederhana Memperbaiki Generasi

Karena kami cinta negeri ini, maka dilakukanlah upaya-upaya sistematis dan sederhana untuk memberikan solusi. Sistematis dalam arti terencana, terarah dan terukur. Sistematis karena kebaikan harus terorganisir secara rapih sehingga bisa mengalahkan kejahatan. Karena menghasilkan generasi-generasi terbaik ini merupakan tugas berat yang harus memunculkan perencanaan secara terarah dan terukur. Ada target besar dan parameter keberhasilan dalam setiap fase tertentu.

Sederhana berarti mampu dilaksanakan oleh siapa saja. Mampu secara sistematis di duplikasi tanpa perlu bergantung pada sosok seseorang, karena Islam tidak mengenal pengkultusan. Salah satu yang memenuhi kriteria sistematis dan sederhana itu adalah Al Quran. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam surah Al Qamar ayat 17,

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”

Dalam tafsir Fi Zhilalil Quran, Sayyid Qutbh mengatakan bahwa

“Kini Al Quran hadir, mudah dipelajari, gampang untuk dipahami, dan menarik untuk dibaca dan direnungkan. Ia mengandung daya tarik kepada kebenaran, keselarasan dengan fitrah, menggetarkan tabiat, keajaibannya tidak kunjung habis, dan tidak banyak ditentang. Jika kalbu merenungkannya, ia kembali dengan memperoleh bekal baru.”

Ialah Al Quran yang Allah turunkan secara sistematis dan tematis. Berdasarkan kebutuhan pada masa itu, namun ternyata masa berulang sehingga Al Quran masih relevan untuk digunakan saat ini. Ketika berbicara tentang pergaulan bebas saat ini, masyarakat jahiliyah pun melakukannya. Islam datang untuk menyelesaikan itu, dengan Al Quran sebagai panduan. Kisah kaum luth (LGBT) di ceritakan, bagaimana muncul dan kehancurannya. Kisah peminum khamr, yang juga dilarang Allah SWT kini muncul kembali dengan sedikit perbedaan. Kisah-kisah dimunculkan, untuk pelajaran bagi orang-orang beriman.

Al Quran juga dijadikan sederhana, dengan struktur bahasa yang menarik terutama bagi umat Rasulullah SAW yang mencintai sastra. Adanya rima, pengulangan bunyi di bagian akhir ayat pada Al Quran semakin membuat kesederhanaan itu menjadi indah. Kesederhanaan ini kemudian menimbulkan fakta bahwa Al Quran ini mudah, sangat mudah bahkan untuk dihafalkan. Dalam buku Metode TES, Ketika Tilawah dan Tahfidz Menyatu diceritakan tentang seorang nenek usia 75 tahun yang mampu hafal 3 halaman dalam waktu hanya dalam 8 jam. Sebuah hasil yang luar biasa untuk seorang nenek berusia 75 tahun ini.

Karena penduduk muslim merupakan populasi terbesar di negeri ini, maka upaya yang harus dilakukan pun mencangkup jumlah yang besar ini. Untuk itulah, upaya ini kemudian bermain dengan target jumlah dan sebarannya. Rumah Tahfidz TES kemudian menjadi pilihan yang cocok untuk mewujudkan keinginan itu, sederhana dan sistematis. Sederhana karena tidak memerlukan biaya besar, cukup ada siswa dan ruangan terbatas. Sistematis karena ada kurikulum dan capaian-capaian yang di evaluasi secara rutin.

Rumah Tahfidz TES merupakan salah satu upaya yang bisa dilakukan dalam rangka memperbaiki kondisi generasi muslim di Indonesia. Rumah Tahfidz TES merupakan ungkapan dari kegalauan orang tua yang bersusah payah menjaga anak-anaknya dari pengaruh negatif di lingkungannya, sekolah dan rumah. Begitu hebatnya pengaruh lingkungan ini membuat upaya untuk menghadirkan lingkungan Qurani secara mandiri, minimal untuk keselamatan anak-anak semakin terasa mendesak.

Selamat Hari Pendidikan Nasional

Bang Jemmi – Founder Metode TES

MUDAH! BIKIN RUMAH TAHFIDZ TES

Rumah Tahfidz TES merupakan sarana menghafal Al Quran 30 Juz untuk Siswa-siswi yang tidak berkesempatan ikut Pesantren. Rumah Tahfidz TES menggunakan Metode TES yang sederhana dan terbukti membantu orang-orang sibuk mewujudkan mimpinya hafal Al Quran

Rumah Tahfidz TES bisa berbentuk rumah biasa yang kita tinggali, atau program di sekolah, kantor atau juga bisa di Masjid yang berfungsi sebagai tempat Halaqah Tahfidz Al Quran dengan menggunakan Metode TES.

Rumah Tahfidz TES di desain dengan kurikulum yang sederhana untuk mewujudkan Hafal 30 Juz dalam waktu 5-6 Tahun saja. Dengan pertemuan hanya 3x dalam sepekan, masing-masing hanya 120 menit, daaaaaan TIDAK ada PR menghafal di rumah, Insya Allah program di Rumah Tahfidz TES akan disukai oleh putra putri kita.

Tidak Bisa Diremehkan
Meski demikian, pencapaian Rumah Tahfidz TES sudah Luar Biasa. Sebagai program yang baru berjalan 3 tahun, kini Siswa-siswi RTT (sebutan Rumah Tahfidz TES) sudah berjumlah 3.600 orang. Sudah gitu, tersebar di berbagai Kota seperti Kab. Bandung, Kota Bandung, Kota Cimahi, Klaten, Jakarta hingga ke Pekanbaru. Bahkan, program ini sudah diikuti oleh peserta dari usia 2,5 – 75 tahun loh. Mantap jiwa.

Lalu dengan pencapaian ini, apakah sulitkah membuka Rumah Tahfidz TES? Oh tentu tidak. Cukup dengan 4 langkah mudah ini.

1. Kumpulkan 15-20 siswa
2. Pertemuan dengan Ortu Calon siswa
3. Tentukan jadwal dan biaya
4. Mulai deh

Siswa-siswinya tidak harus bisa baca Al Quran, yang belum kenal huruf pun bisa ikut program ini. Alhamdulillah, kita sudah wisuda 5 kali. Terakhir kemarin (4 Maret 2018) mewisuda 840 Siswa-siswi dari yang Hafal Juz 30 sampai yang hafal 17 Juz.

Termasuk di dalamnya mewisuda 12 peserta Karantina Tahfidz Metode TES yang Angkatan 1 yang selesai 30 Juz dalam 50 hari

Nah bagi Bapak/Ibu yang tertarik, bisa segera ke kantor Metode TES.
Jl Raya Banjaran No 232, Baleendah, Kab. Bandung. Ruko Komplek Griya Prima Asri No 2
Telp (022) – 85938316
WA 081320565197

Nb :
Kalau Bapak/Ibu gak tertarik, bantu sebar aja. Mudah-mudahan jadi amal jariah

Sekian dari saya
@bangjemmigumilar

DIMANAKAH AKU NANTI

Malam-malam di Bandara Adisucipto Yogyakarta terlihat sibuk. Ratusan orang menunggu datangnya kabar dari petugas, kapankah pesawatnya datang.

Ratusan orang dengan ratusan ekspresi, entah apa yang ada dalam fikirannya. Mungkin lelah, atau terburu-buru, atau hal-hal lain yang kadang tersirat dari wajahnya.

Akan kah begitu nanti di padang mahsyar? Ketika milyaran manusia berkumpul dan menunggu datangnya keputusan. Apakah surga atau neraka?

Lalu, dimanakah aku saat itu? Menunggu dengan harap-harap cemas?

Wahai diri hisablah dirimu, dan segera bersihkan dosamu..

@bangjemmigumilar

AKU MAH BARHO

Bagi orang Sunda, mungkin ga aneh dengan istilah “barho” (bubar poho/ bubar lupa). Istilah ini artinya adalah setelah bubar acara, lalu lupa semua yang telah dipelajari atau dihafal. Kemarin, istilah ini muncul lagi saat saya akan memberikan materi awal dalam rangka pembukaan Rumah Tahfidz TES untuk kelompok Guru di salah satu SMP Negeri di Bandung.

Istilah ini secara tidak langsung ingin mengatakan ketidaksanggupan peserta mengikuti progam tahfizh Al Quran, meskipun dalam hatinya masih ada keinginan untuk menghafal Al Quran. Karena itu, saya pun menyampaikan persepsi dasar menghafal Al Quran yang akan menguatkan peserta untuk terus berada dalam program menghafal Al Quran di Rumah Tahfizh yang menggunakan Metode TES ini. Persepsi dasar yang sudah digunakan oleh alumni Metode TES dan juga secara detail digambarkan dalam buku kedua saya.

Persepsi dasar itu adalah :

  1. Menghafal Al Quran adalah masalah interaksi

Apakah Anda tahu ayat kursi? Salah satu ayat yang ada di surah Al Baqarah ini merupakan ayat yang populer di tengah masyarakat dan tentunya hafal. Hampir tidak ada orang dewasa yang tidak mengenal ayat ini apalagi tidak hafal.

Ayat kursi yang juga ada dalam surat Al Baqarah ayat 255 ini termasuk ayat yang panjang jika dibandingkan dengan ayat sebelumnya. Ayat 255 berjumlah hampir 5 baris, sedangkan ayat 254 hanya 2 baris. Akan tetapi, kalau saya tanya mana yang hafal, kemungkinan besar jawabannya adalah 255 lebih hafal dari 254. Kenapa bisa. Karena sering dibaca bukan?

Jadi menghafal itu adalah masalah interaksi, sering ketemu, sering dibaca, maka akan mudah hafal. Gak percaya? Coba aja surah Al Baqarah 6 – 10, insya Allah mudah dihafalkan.

  1. Kebaikan itu dari setiap huruf yang dibaca

Persepsi kedua ini mungkin sudah sangat sering saya ingatkan, khususnya dikala peserta mulai kehilangan orientasi hafalan. Dalam menghafal Al Quran, seharusnya orientasi utama kita bukan hafal, tapi bagaimana bisa membaca setiap huruf Al Quran secara lebih banyak. Karena pahala yang kan kita dapatkan itu dari setiap huruf yang dibaca. Saya ulangi, karena pahala yang kan kita dapatkan itu dari setiap huruf yang dibaca . Karena sesuai dengan poin 1, semakin sering baca akan semakin mudah hafal.

Analoginya adalah, kalau ada dua orang sebutlah A dan B sedang menghafal Surah An Naba ayat 1 – 3 yang berjumlah 39 huruf. Si A mampu hafal 3 (tiga) ayat tersebut dengan hanya mengulang 5 kali, sedangkan si B membutuhkan pengulangan 20 kali untuk bisa hafal. Menurut Anda, mana pahalanya yang paling banyak berdasarkan hadits bahwa setiap huruf yang dibaca berarti satu kebaikan dan dilipatgandakan sepuluh kali? Pasti si B yang membutuhkan pengulangan 20 kali yang lebih banyak pahalanya.

Senada dengan itu, maka ketika kita sudah hafal kemudian lupa, maka sebenarnya kita sedang diberikan kesempatan untuk membaca lebih banyak lagi huruf.

  1. Manusia tempatnya lupa

Saat menghafal, terkadang kita lupa sifat dasar manusia yang Rasulullah SAW gambarkan, tempat lupa dan salah. Kita terlalu merasa sempurna dengan melupakan sifat dasar ini sehingga ketika hafal lalu lupa seakan timbul perasaan bahwa ia tak mungkin bisa menghafal Al Quran. Padahal, pada pembahasan sebelumnya saya sudah sampaikan bahwa usia 80 tahun pun masih bisa menghafal yang bahkan hanya membutuhkan 5 tahun untuk hafal 30 Juz.

Akan tetapi, bukan berarti harus pasrah dengan keadaan. Saat lupa, tinggal ulang hafalannya, dan itu baik untuk kita. Seperti bahasan di poin dua di atas. Jadi hafalkan, saat lupa, maka ulang hafalkan dan seterusnya.

Mudah-mudahan dengan tiga alasan ini, kita takkan takut mulai menghafal, takkan takut lupa. Karena menghafal berarti banyak membaca huruf. Karena lupa berarti kesempatan untuk lebih dan lebih banyak lagi huruf yang dibaca.

-Bang Jemmi-

WA : 085794712555

IG : @bangjemmigumilar

 

Pesan Sponsor :

Dapatkan pembahasan lengkap Metode TES di Buku

“Metode TES, Ketika Tilawah dan Tahfizh Menyatu”

Pesan ke 081320565197 (Robi)